Artikel

Kerajinan Tangan dari Batok Kelapa Ternyata Menguntungkan

Kamu mungkin tidak percaya dengan uang Rp12.500, yang digunakan untuk usaha kecil-kecilan sejak tahun 1992 lalu, kini telah menghasilkan omset hingga miliaran rupiah. Bahkan, pengrajin ini mengaku tak kuat untuk memenuhi permintaan pasar luar negeri.

Adalah Subkhan Nur Raufiq (45 tahun) pengrajin batok kelapa dari Dusun Santan, Desa Guwosari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang berhasil mewujudkan mimpinya dengan memilih tidak merantau ke daerah lain. Apalagi, menjadi buruh di suatu pabrik yang jauh dari tempat tinggalnya.

Subkhan menceritakan bagaimana awalnya dirinya memulai usaha kerajinan tangan dengan bahan dasar batok kelapa, yang kala itu hanya digunakan untuk membuat arang atau bahkan hanya dibuang begitu saja karena kayu masih melimpah di kampungnya.

"Usai lulus SMA tahun 1992, ketika teman mencari pekerjaan di luar kota, saya hanya jalan-jalan di Malioboro untuk melihat-lihat kerajinan tangan. Setelah itu, muncul ide memanfaatkan batok kelapa untuk menjadi gantungan kunci atau suvenir untuk pernikahan," katanya.

Untuk membuat suvenir pernikahan dan gantungan kunci itu, Subkhan mengaku hanya mempunyai uang Rp12.500, yang digunakan untuk membeli alat bubut yang sangat sederhana dan masih manual. Namun, dengan alat yang masih manual itu justru terciptalah gantungan kunci dan suvenir pernikahan dari bahan dasar batok kelapa yang indah. "Saat itu, pemasarannya masih door to door, sehingga kurang laku di pasaran dan penjualan sangat terbatas," ujarnya.

Akibat tak begitu laku, dirinya nekat untuk melakukan promosi produknya ke hotel-hotel yang ada di Yogyakarta, tidak disangka ada pembeli dari luar negeri yang memesan alat musik Marakas untuk dikirim ke Kanada. "Mereka memberikan contoh alat musik tersebut dan dengan alat yang masih manual itu akhirnya pesanan dapat dipenuhi dan dikirim ke Kanada," katanya.

Dari alat musik Marakas itulah usahanya terus berkembang hingga 1998, saat Indonesia mengalami krisis ekonomi tapi produk kerajinan tangan yang dihasilkannya justru mendapatkan keuntungan besar karena pasarnya adalah luar negeri dengan transaksi dolar.

Subkhan mengaku bahwa hingga saat ini dirinya masih memiliki delapan tenaga kerja yang mengerjakan pesanan dari Eropa, Australia maupun kawasan Timur Tengah. Dia mengaku bahwa tenaga terampil dan memiliki sifat telaten, ulet, dan sabar sangat sulit ditemukan, apalagi, setiap tenaga yang mampu membuat produk, mereka akan disuruh untuk dapat mandiri dan berusaha sendiri. "Saya ingin menciptakan bos-bos baru, bukan menciptakan tenaga kerja saja. Ketika banyak bos baru, harapan saya 'one village one product' dapat terealisasi," tuturnya.

Kisah yang sangat menginspirasi ya Kokoru Friends? Ketika Kamu memiliki keahlian dan kemauan yang kuat, segala rintangan akan terlewati. Seorang Crafter sejati memiliki sifat telaten, ulet dan sabar. Jadi, buat Kamu yang mulai putus asa dalam menciptakan karya seni, ayo bangun lagi semangatnya. Kesuksesan akan datang dengan kegigihan dan kerja keras Kamu.

Yuk berlatih dan belajar lebih giat lagi agar makin mahir di bidang crafting, siapa tahu kelak Kamu bisa jadi pengusaha sukses juga. Kalau minat Kamu adalah Kerajinan tangan dari Kertas, jangan lupa sedia selalu Kertas Kokoru nya ya :)

go to top